medik-tv.com Ketapang – Penampilan mobil hias kafilah Kabupaten Ketapang pada pawai ta’aruf pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXIII tingkat Kabupaten di Kapuas Hulu pada Minggu, 14 September 2025 lalu, ramai jadi bahan perbincangan warganet.
Sayangnya, bukan pujian yang didapat. Mobil hias yang ditampilkan justru menuai komentar pedas. Banyak netizen di media sosial menyebut tampilannya lebih menarik “odong-odong” dengan sound horeex ketimbang kendaraan kafilah resmi. Bahkan, tak sedikit komentar yang menyudutkan pengurus LPTQ Ketapang, hingga ada yang menyuarakan agar bupati segera mengganti kepengurusan karena dianggap membuat malu daerah.
Melihat ramainya kritik tersebut, Medik-TV Ketapang mencoba mengonfirmasi langsung kepada Ketua LPTQ Kabupaten Ketapang, Drs. H. Satuki Huddin, M.Si, saat dirinya menghadiri acara Maulid Nabi di Ketapang, Kamis malam (18/09/2025).
Satuki pun angkat bicara. Menurutnya, persoalan ini bermula dari keputusan Rapat Kerja LPTQ Provinsi Kalbar pada April 2025 di Pontianak. Dalam forum itu, disepakati bahwa kegiatan Pawai Ta’aruf dan Stand Pameran menjadi tanggung jawab perangkat daerah terkait, bukan sepenuhnya LPTQ.
“Berdasarkan keputusan itu, saya sudah berkoordinasi dengan Bappeda dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Ketapang. Bahkan sudah diarahkan agar kegiatan ini dianggarkan melalui APBD Perubahan, karena memang erat kaitannya dengan pariwisata dan budaya,” jelas Satuki.
Namun, hingga H-2 keberangkatan, kondisi berubah drastis. Menurut Satuki, Disparbud masih sempat menyatakan siap melaksanakan kegiatan dan bahkan berencana menunjuk event organizer. Tetapi, begitu kafilah tiba di Kapuas Hulu pada 12 September, Kepala Disparbud justru menyatakan tidak sanggup dengan alasan APBD Perubahan belum diketok, sehingga tidak berani melakukan talangan dana.
“Mendengar itu, saya langsung melapor kepada Sekda. Atas arahan beliau, kegiatan akhirnya diambil alih pengurus LPTQ. Waktu persiapannya hanya sehari saja,” terang Satuki.
Alhasil, pada 13 September, pengurus LPTQ bergerak cepat. Sebagian mengurus mobil hias untuk pawai ta’aruf, sebagian lagi menyiapkan stand pameran. Sayangnya, karena dana sejak awal memang dialokasikan di Disparbud, LPTQ tidak menyiapkan anggaran khusus untuk dua agenda ini.
“Kami sudah berusaha maksimal menyiapkan mobil hias dan stand, tapi kami akui hasilnya memang belum sesuai harapan,” ujarnya dengan nada menyesal.
Satuki pun menyampaikan permohonan maaf kepada Bupati, Wakil Bupati, Sekda, serta masyarakat Ketapang atas kejadian yang membuat heboh ini. Ia menegaskan, LPTQ akan menjadikan pengalaman tersebut sebagai pelajaran agar lebih matang dalam mempersiapkan agenda serupa di masa mendatang.
