medik-tv.com Ketapang – Penjualan buah langsat di Kabupaten Ketapang mengalami penurunan pada tahun 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh para pedagang musiman, salah satunya Maskur, pedagang langsat yang berjualan di Jalan R. Suprapto, Kelurahan Tengah, Kecamatan Delta Pawan, tepatnya di depan Fokus.
Maskur mengungkapkan, pada tahun lalu ia mampu menjual hingga 25 keranjang langsat dalam satu hari semalam. Namun, memasuki tahun 2026, jumlah penjualannya mengalami penurunan cukup signifikan dan kini hanya mampu menjual sekitar 15 keranjang per hari.

“Kalau tahun sebelumnya bisa habis sampai 25 keranjang dalam sehari semalam, sekarang di tahun 2026 paling banyak hanya sekitar 15 keranjang,” ujar Maskur saat ditemui medik.tv, Rabu (14/1/2026).
Ia menjelaskan, modal pembelian buah langsat dari pemasok berada di kisaran Rp8.000 per kilogram. Sementara itu, harga jual kepada konsumen dipatok Rp10.000 per kilogram. Menurutnya, selisih harga tersebut terbilang wajar, mengingat kondisi buah langsat yang tidak semuanya dalam keadaan segar.
“Dengan modal Rp8.000 per kilogram itu, belum tentu semua buah bagus. Ada juga yang mulai layu atau kualitasnya menurun, makanya kami jual Rp10.000 agar tetap bisa menutup modal,” jelasnya.
Maskur mengaku penurunan penjualan berdampak langsung pada pendapatan hariannya. Jika sebelumnya ia bisa memperoleh keuntungan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, kini penghasilannya ikut menyusut seiring berkurangnya jumlah pembeli.
Selain itu, ia menduga menurunnya penjualan langsat dipengaruhi oleh melemahnya daya beli masyarakat, serta persaingan dengan pedagang buah musiman lainnya yang juga mulai bermunculan.
Untuk menarik pembeli, Maskur tetap berjualan setiap hari dengan jam operasional mulai pukul 16.00 WIB hingga malam hari. Namun, meski berjualan lebih lama, hasil yang diperoleh masih belum seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Kami mulai buka dari jam empat sore sampai malam, tapi pembelinya memang tidak seramai dulu,” keluhnya.
Sebagai pedagang kecil, Maskur berharap kondisi perekonomian ke depan dapat membaik sehingga daya beli masyarakat kembali meningkat. Ia juga berharap penjualan buah langsat bisa kembali ramai seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Harapannya ke depan pembeli bisa ramai lagi, supaya dagangan cepat habis dan penghasilan bisa mencukupi,” pungkasnya.
Penurunan penjualan langsat ini menjadi gambaran kondisi pedagang kecil di Ketapang yang masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi di awal tahun 2026.
