medik-tv.com Ketapang – Bupati Ketapang Alexander Wilyo, S.STP., M.Si., secara resmi membuka Pagelaran Seni Budaya Melayu (PSBM) Kabupaten Ketapang Tahun 2026 yang ditandai dengan pemukulan gendang tar. Kegiatan yang berlangsung pada 7–10 November 2026 tersebut menjadi momentum untuk melestarikan warisan budaya Melayu sekaligus memperkuat identitas dan persatuan masyarakat Kabupaten Ketapang.
Pembukaan PSBM berlangsung meriah dan dihadiri Wakil Bupati Ketapang Jamhuri Amir, S.H., Ketua DPP Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat Prof. Dr. H. Chairil Effendy, M.S., Ketua DPD MABM Ketapang H. Irvan Marsyad, S.Pd., M.H., Ketua Panitia Pelaksana H. Marwan Noor, M.M., para tokoh adat, serta tamu undangan lainnya.
Nuansa adat Melayu telah terasa sejak kedatangan para tamu melalui prosesi penyambutan berupa tabur beras kuning dan tepung tawar, diiringi tabuhan gendang tar serta pertunjukan pencak silat Kutemare. Suasana semakin semarak dengan prosesi pemancungan tebu yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum MABM Kalimantan Barat sebagai salah satu bentuk pelestarian tradisi adat Melayu.
Dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung selama empat hari tersebut, panitia menyelenggarakan berbagai agenda, di antaranya Musyawarah Daerah (Musda) MABM, seminar adat budaya Melayu, lomba dendang Melayu, lomba busana Melayu, serta pameran budaya dari berbagai kecamatan.
Melalui pameran budaya, setiap kecamatan menampilkan beragam benda bersejarah, kekayaan tradisi, hingga kuliner khas Ketapang. Berbagai penampilan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi budaya dan kearifan lokal masyarakat kepada khalayak luas.
Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap penyelenggaraan PSBM sebagai upaya nyata untuk menjaga dan melestarikan adat, kebudayaan, serta tradisi daerah. Ia menegaskan bahwa kebudayaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari jati diri dan identitas suatu bangsa.
“Budaya ini adalah jati diri kita, identitas kita. Ketika budaya hilang, maka hilang pula identitas dan jati diri kita,” tegasnya.
Menurut Bupati, pelestarian budaya harus dilakukan secara berkelanjutan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. PSBM diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk mengenal sejarah, adat istiadat, tarian, musik tradisional, pakaian adat, serta berbagai kekayaan warisan budaya Melayu.
Dengan demikian, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut mengambil bagian sebagai pelaku dan pelestari kebudayaan daerah.
Lebih lanjut, Bupati menyampaikan bahwa kegiatan seni budaya memiliki manfaat yang lebih luas, tidak hanya dalam aspek pelestarian tradisi, tetapi juga pendidikan, promosi pariwisata, pengembangan ekonomi kreatif, serta penguatan persatuan dan kebersamaan masyarakat.
Ia berharap PSBM dapat menjadi panggung bagi para seniman untuk menampilkan kreativitas, mengembangkan potensi, dan memperkenalkan kekayaan budaya Melayu kepada masyarakat yang lebih luas. Potensi seni budaya juga dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata yang mampu mendatangkan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Ketapang.
Di sisi lain, penyelenggaraan kegiatan tersebut turut membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM, pengrajin, dan pelaku ekonomi kreatif. Karena itu, Bupati mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga adat, komunitas seni, dan masyarakat agar kekayaan budaya Ketapang dapat berkembang menjadi salah satu potensi pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Pada kesempatan tersebut, Bupati juga menegaskan komitmennya untuk menjadi pemimpin yang adil bagi seluruh suku, agama, kelompok, dan golongan. Ia menyampaikan bahwa dirinya akan terus menjalankan peran sebagai pembina, pengayom, dan pelindung bagi seluruh organisasi kemasyarakatan maupun organisasi budaya yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Ketapang, termasuk MABM.
“Jadi, saya cukup jadi Ketua Partai Gerindra saja, untuk organisasi lainnya saya cukup sebagai pembina,” ungkapnya.
Bupati menegaskan bahwa Kabupaten Ketapang merupakan rumah besar bagi seluruh masyarakat. Oleh karena itu, seluruh elemen masyarakat, termasuk pengurus MABM dan seluruh puak Melayu, diajak untuk bersama-sama menjaga, merawat, dan memelihara daerah.
“Ketapang adalah rumah besar kita semua tempat di mana kita hidup dan mempersiapkan masa depan. Karena kita menginjak tanah yang sama dan menghirup udara yang sama, maka saya mengajak kita semua, termasuk seluruh pengurus MABM dan seluruh puak-puak Melayu, untuk menjaga Ketapang bersama-sama, merawat Ketapang bersama-sama, dan memeliharanya bersama-sama,” tutupnya.
Melalui Pagelaran Seni Budaya Melayu Tahun 2026, diharapkan warisan budaya Melayu semakin dikenal dan lestari, sekaligus memperkuat persaudaraan dalam keberagaman serta mendorong tumbuhnya potensi pariwisata dan ekonomi kreatif demi mendukung pembangunan Kabupaten Ketapang yang maju dan mandiri.
