Harga Bahan Pokok dan Plastik Naik di Ketapang, Pedagang Kecil Tertekan

medik-tv.com Ketapang – Harga bahan pokok serta kebutuhan berbahan plastik di Kabupaten Ketapang mengalami kenaikan setelah Hari Raya Idulfitri. Berdasarkan pemantauan medik.tv pada Selasa (14/4/2026) di Pasar Melati, sejumlah komoditas penting tercatat mengalami lonjakan.

Kenaikan paling signifikan terjadi pada kantong plastik yang mencapai sekitar 75 persen. Harga yang sebelumnya Rp35.000 per kilogram kini naik menjadi Rp52.000 per kilogram. Kondisi ini dinilai memberatkan pedagang kecil yang bergantung pada plastik sebagai kemasan dagangan.

Selain plastik, beberapa bahan pokok juga mengalami kenaikan. Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan menunjukkan harga cabai merah besar dan cabai rawit merah masing-masing mencapai Rp100.000 per kilogram, sedangkan cabai merah keriting berada di kisaran Rp80.000 per kilogram. Sementara itu, harga bawang merah tercatat sekitar Rp45.000 per kilogram.

Untuk komoditas lain, minyak goreng premium dijual di kisaran Rp22.000 hingga Rp23.000 per liter. Adapun minyak goreng bersubsidi, seperti Minyakita, berada di harga Rp15.700 per liter. Harga beras premium tercatat sekitar Rp17.000 per kilogram, sementara beras medium berkisar Rp15.000 per kilogram.

Kenaikan harga ini diduga dipengaruhi berbagai faktor, termasuk distribusi dan kondisi pasokan. Selain itu, dinamika global juga disebut turut berpengaruh terhadap stabilitas harga sejumlah komoditas.

Salah seorang pembeli, Marlina, mengaku merasakan dampak langsung dari kenaikan tersebut.

“Sebagai ibu rumah tangga sekaligus pedagang kecil, kami sangat terdampak. Kenaikan harga kantong plastik membuat biaya usaha bertambah. Kami juga terpaksa menaikkan harga jual, sehingga pembeli berkurang,” ujarnya.

Para pedagang berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga di pasaran. Mereka juga meminta adanya perhatian khusus agar kondisi ini tidak berlangsung lama.

Jika tidak segera diatasi, kenaikan harga dikhawatirkan akan terus membebani masyarakat, terutama pelaku usaha kecil dan rumah tangga.